UOBF Puskesmas Bangilan Gelar Program Desa SERBU TBC untuk Percepat Eliminasi Tuberkulosis
- May 20, 2026
- kangmaskin
- Seputar Bangilan
Upaya percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC) terus diperkuat melalui deteksi dini pada kelompok rentan masyarakat. UOBF Puskesmas Bangilan bekerja sama dengan Yayasan STPI (Stop TB Partnership Indonesia) dan Dompet Dhuafa melaksanakan kegiatan penjaringan suspek TBC melalui pemeriksaan rontgen dan tes Mantoux di sejumlah desa di Kecamatan Bangilan.
Kegiatan ini dimulai pada Rabu, 20 Mei 2026, di Desa Bangilan. Selanjutnya, program akan dilaksanakan secara bertahap di beberapa desa lainnya, yakni Desa Banjarworo pada 22 Juni 2026, Desa Sidodadi pada 29 Juli 2026, Desa Sidotentrem pada 6 Agustus 2026, Desa Kablukan pada 25 Agustus 2026, dan terakhir di Desa Ngrojo pada 24 September 2026.
Program ini merupakan bagian dari kegiatan Desa SERBU TBC (Serentak Berantas Tuberkulosis) yang bertujuan meningkatkan penemuan kasus TBC sejak dini, khususnya pada kelompok rentan seperti kontak erat pasien TBC, balita dengan gizi buruk, masyarakat yang mengalami gejala TBC, serta penderita dengan riwayat diabetes.
Pelaksanaan skrining diawali dengan pengukuran berat badan (BB), tinggi badan (TB), serta evaluasi status gizi oleh tim UOBF Puskesmas Bangilan. Setelah itu, peserta menjalani tes Mantoux sebagai salah satu metode deteksi dini infeksi TBC.
Kepala Desa Bangilan, Sukirno, menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, upaya eliminasi TBC membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dan Program Desa SERBU TBC menjadi langkah strategis dalam pemberantasan TBC di tingkat desa.
Sementara itu, Kepala UOBF Puskesmas Bangilan, dr. Diana Maya Sari, menegaskan pentingnya deteksi dini TBC, terutama pada anak-anak.
“TBC merupakan penyakit infeksi yang dapat berdampak pada pertumbuhan dan status gizi anak, sehingga deteksi sejak dini sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih serius,” ujarnya.
Pelaksana Program TBC Yayasan STPI dan Dompet Dhuafa, Sukarman, menyampaikan bahwa kegiatan ini akan terus diperluas agar seluruh kelompok sasaran dapat terjangkau. Ia berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya pencegahan dan penanggulangan TBC.
Menurutnya, eliminasi TBC tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“TBC tidak bisa diberantas sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat. Melalui Program Desa SERBU TBC, kami berharap sinergi antara Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, Yayasan STPI, dan Dompet Dhuafa semakin kuat dalam menemukan kasus lebih dini dan memastikan pasien mendapatkan pengobatan hingga sembuh,” tegas Sukarman.
Selain upaya skrining dan pendampingan pengobatan hingga sembuh (TOSS TBC), program ini juga mendorong inovasi berupa pengembangan tools atau aplikasi pemantauan kepatuhan minum obat pasien TBC guna menekan angka putus berobat (loss to follow-up).
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan partisipasi aktif dalam upaya pencegahan serta pengendalian TBC, sejalan dengan target eliminasi TBC di Indonesia. (adm)