Tradisi Sungkeman Setiap Hari Raya Idul Fitri
- Mar 18, 2026
- kangmaskin
- Potensi Budaya
Tradisi Jawa umumnya memiliki ajaran-ajaran tertentu terutama dalam membangun adab, tata krama atau aturan berperilaku. Salah satu tradisi yang kental dengan masyarakat Jawa adalah sungkeman. Pada dasarnya, sungkeman adalah tata krama seorang anak dalam memohon restu dan meminta maaf kepada kedua orang tua dengan cara duduk bersimpuh lalu mencium punggung tangan kedua orang tua mereka.
Ritual tersebut adalah sebagai bentuk penghormatan seorang anak kepada orang tuanya. Karena itu, sungkeman bisa dikatakan juga sebagai simbol permintaan maaf dan permohonan restu, bukan penghambaan. Ritual semacam ini bisa dikatagorikan sebagai ibadah simbolik atau menggunakan simbol tertentu sebagai bentuk perwujudan ibadah. Ingat, memuliakan orang tua dengan berharap keridhaan orang tua merupakan ibadah yang sangat penting.
Dalam catatan sejarah, tradisi sungkeman pertama kali didokumentasikan dan dilembagakan pada masa KGPAA Sri Mangkunegara I. Saat itu, beliau bersama seluruh punggawanya berkumpul bersama dan saling bermaafan setelah Sholat Id. Namun karena situasi politik dan keamanan saat itu, menyebabkan pihak istana tak leluasa menggelar tradisi sungkeman. Kolonial Belanda mencurigainya sebagai pertemuan terselubung untuk melawan mereka.
Bahkan dikisahkan, saat terjadi prosesi sungkeman di Gedung Habipraya, Singosaren, saat Lebaran tahun 1930, Belanda nyaris saja menangkap Ir. Soekarno, dan dr. R. Radjiman Widyodiningrat yang merupakan dokter pribadi SISKS Pakubuwono (PB) X, Raja Keraton Surakarta. Sontak PB X yang juga berada di lokasi pada saat itu, langsung spontan menjawab jika itu bukan aksi penggalangan masa, tapi halal-bihalal/sungkeman saat Lebaran. Namun karena peristiwa itulah, akhirnya PB X justru malah membuka tradisi sungkeman menjadi semacam open house seperti sekarang.
Pada umumnya sungkeman dilakukan saat lebaran pertama, misalnya seorang cucu yang ingin sungkem kepada neneknya akan menghadap sang nenek dan duduk bersimpuh di depan nenek, kemudian cucu mengucapkan kalimat sungkeman dalam bahasa Jawa. “Ngaturaken sugeng riyadi, nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kula, nyuwun tambahing pangestu nggih”. (Saya mengucapkan selamat hari raya, mohon dimaafkan atas segala kesalahan saya, dan minta doa restunya).
Meski dalam pelaksanaannya terlihat sederhana, namun makna yang terkandung dalam sungkeman sangat mendalam. Saat Idul Fitri, sungkeman diartikan sebagai wujud permintaan maaf dari segala perbuatan buruk yang pernah dilakukan kepada orang tua.
Olehnya tradisi sungkeman harus kita jaga dan lestarikan, karena tradisi ini merupakan salah satu kearifan lokal yang mulia yang layak menjadi kebanggaan Indonesia. Melalui tradisi ini, kita dapat melatih kerendahan hati, sopan santun, serta menyingkirkan keegoisan. (adm)