Nutup, Kenduri Perpisahan dengan Bulan Puasa
- Mar 11, 2026
- Kangmaskin
- Potensi Budaya
Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, masih banyak masyarakat yang setia menjalankan tradisi warisan leluhur. Salah satu tradisi yang tetap lestari hingga kini adalah kenduri atau kenduren, yang juga dikenal sebagai slametan. Tradisi ini bukan sekadar ritual makan bersama, melainkan sebuah peristiwa budaya yang menyatukan unsur spiritualitas, sosial, dan filosofi kehidupan dalam satu harmoni.
Kenduri merupakan ekspresi syukur yang dibingkai dalam bentuk sedekah makanan. Ia bisa dilakukan dalam berbagai konteks: kelahiran, khitan, pernikahan, pembangunan rumah, panen, bahkan kematian. Di balik kesederhanaannya, kenduri menyimpan makna mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam sekitarnya.
Lebih dari sekadar ritual, kenduri merupakan media transmisi nilai-nilai budaya dan spiritual yang telah teruji oleh zaman. Ia mengajarkan tentang syukur, sedekah, kesederhanaan, keterbukaan sosial, dan pentingnya relasi harmonis antar manusia. Dalam kenduri, kita diajak untuk merenungkan bahwa hidup bukan sekadar tentang materi, tetapi juga tentang makna dan hubungan. Baik dengan Tuhan, keluarga, maupun masyarakat.
Pada bulan puasa di Bangilan masih ada tradisi yang cukup kental yaitu kenduri Mapak dan kenduri Nutup. Kenduri Mapak umumnya di lakukan sesaat setelah nisfu sya'ban, masyarakat akan membuat jamuan berupa nasi beserta lauk pauknya lalu diundangkan ke warga sekitar untuk di doakan di rumahnya, acara ini melambangkan wujud syukur atas datangnya bulan Ramadhan. Dan menjelang selesai bulan Ramadhan akan ada kendurian lagi yang biasa di sebut dengan Kenduri Nutup. Kenduri Nutup sendiri biasa dilakukan pada malam - malam ganjil pada bulan Ramadhan yakni pada malam 21, 23, 25, 27 dan 29. Kenduri Nutup sendiri merupakan tradisi perpisahan dengan bulan suci ramadhan.
Namun kegiatan tersebut sekarang telah di sederhanakan oelh beberapa kelompok masyarakat, dengan alasan biaya atau apaun yang jelas sekarang umumnya warga masyarakat, masing - masing cukup membawa 5 paket kotak nasi ke musholla di hari yang sudah disepakati untuk di doakan bersama warga lainnya kemudian di bagikan.
Melestarikan kenduri berarti menjaga jati diri budaya, menghargai leluhur, dan menyemai nilai-nilai kehidupan yang luhur. Tradisi ini bukan warisan usang, tapi kekayaan makna yang relevan sepanjang zaman. Kenduri menjadi ruang jeda yang memberi napas. Ia menegaskan bahwa dalam setiap pencapaian hidup, harus ada rasa syukur yang disertai berbagi. Bahwa dalam setiap langkah, harus ada doa dan harapan yang menyatu dalam tindakan konkret. (adm)