Libur Lebaran Telah Usai, Bangilan Kembali Sepi

  • Mar 30, 2026
  • kangmaskin
  • Seputar Bangilan

Setelah sepuluh hari penuh dengan tawa, pelukan hangat, dan deretan obrolan panjang di teras rumah, Bangilan kini kembali sunyi. Gelak tawa para perantau yang sempat menghidupkan suasana kini tinggal kenangan. 

Pagi hari yang kemarin dipenuhi aroma masakan khas Lebaran, kini kembali sepi, hanya terdengar suara ayam berkokok dan gemerisik dedaunan yang ditiup angin. Rumah-rumah yang sempat ramai oleh tamu dan kerabat kini menutup pintunya rapat-rapat. Karpet yang kemarin digelar untuk menyambut keluarga besar telah tergulung kembali. Anak-anak kecil yang biasanya bermain hingga sore bersama sepupu-sepupunya kini kembali sendirian, menatap kosong ke jalanan kampung yang lengang. Warung di ujung gang kembali sepi, pemiliknya duduk di bangku kayu, sesekali menatap jalan sembari menyeruput kopi, seperti sedang menunggu keramaian yang tak kunjung datang.

Sunyi ini bukan hanya milik tempat, tapi juga terasa sampai ke hati. Ada semacam kehampaan setelah semua orang kembali ke rutinitas mereka di kota. Ini adalah siklus yang sudah biasa terjadi tiap tahun. Saat Ramadan menjelang akhir, kampung menjadi magnet yang menarik pulang anak-anak rantau. Mereka datang dengan koper berisi oleh-oleh, tapi lebih dari itu, mereka datang membawa rindu pada rumah, pada orang tua, pada kenangan masa kecil yang tak lekang oleh waktu.

Setiap sudut kampung seakan bersolek menyambut kepulangan mereka. Jalan-jalan dibersihkan, rumah dicat ulang, bahkan pohon-pohon tua di halaman ikut tampak lebih hidup. Suasana menjadi hangat, bukan hanya karena matahari yang bersinar lebih terik, tapi karena senyum yang berseliweran di mana-mana. Wajah-wajah yang lama tak terlihat kini kembali mengisi ruang tamu dan meja makan.

Silaturahmi pun menjadi denyut utama kampung di masa itu. Saling kunjung, saling maaf, saling tertawa mengenang masa lalu yang lucu atau haru. Malam tak pernah benar-benar sepi karena suara percakapan dan gelak tawa masih terdengar hingga larut. Kini, ketika satu per satu mobil kembali menuju kota, kampung kembali ke ritme lamanya. Tak ada lagi suara klakson yang bersahut-sahutan, tak ada lagi deru mesin motor yang menderu hingga malam. Jalanan yang sempat padat kini hanya dilewati satu dua sepeda motor petani atau anak sekolah. Hiruk-pikuk seketika berganti menjadi keheningan yang akrab.

Para orang tua kembali menjalani hari-harinya seperti biasa menyapu halaman, menyiram tanaman, atau sekadar duduk di bangku depan rumah sambil memandang kosong ke jalanan yang kini lengang. Obrolan di warung kopi kembali tentang cuaca dan harga gabah, bukan lagi soal cucu yang pulang atau anak yang kerja di kota. Anak-anak kampung pun tampak lebih tenang. Mereka tak lagi berlomba-lomba bermain petasan atau berlarian bersama sepupu-sepupu kota yang datang membawa mainan baru. 

Kesunyian ini bukan hanya tentang suara, tapi juga tentang rasa. Ada kekosongan yang sulit dijelaskan. Seolah ada sesuatu yang tertinggal, bukan dalam bentuk barang, melainkan dalam bentuk kehadiran tatapan mata yang hangat, percakapan ringan di sore hari, atau pelukan singkat sebelum berpamitan. 

Semua itu kini hanya tinggal jejak dalam ingatan. Ruang tamu yang beberapa hari lalu penuh dengan gelas dan piring kini tampak rapi tapi sunyi. Kasur-kasur tambahan yang digelar di ruang tengah sudah kembali disimpan. Suara bocah-bocah yang saling berebut kue Lebaran telah lenyap, digantikan oleh jam dinding yang berdetak pelan.

Di balik kesederhanaan suasana kampung, tersimpan rindu yang tak terucap. Orang tua kembali menatap ponsel, berharap ada pesan dari anaknya di kota. 

Sementara itu, hati mereka masih dipenuhi bayangan tentang pagi-pagi yang hangat, saat anak dan cucu berkumpul di meja makan sambil tertawa dan bersenda gurau. Sunyi ini bukan akhir, melainkan jeda. Dan kampung akan selalu setia menunggu, seperti pelukan ibu yang tak pernah tertutup bagi anaknya yang lelah. Ia tak menuntut, tak mengeluh, hanya menjadi tempat yang nyaman untuk kembali seberapa jauh pun langkah pernah membawa pergi.

Kampung tahu, suatu hari nanti tawa-tawa itu akan datang lagi. Mungkin tak sama persis, mungkin dengan cerita baru, dengan wajah-wajah yang bertambah usia atau bahkan berkurang. Namun kehangatan itu akan tetap sama, karena kampung menyimpan cinta dalam diamnya, dalam jalan setapaknya, dalam aroma tanahnya setelah hujan.

Waktu akan terus berjalan, dan hari-hari akan kembali diisi oleh rutinitas yang tenang. Tapi di balik semua itu, kampung tak pernah benar-benar sunyi. Ia menyimpan gema masa lalu dan harapan masa depan. Setiap daun yang gugur, setiap angin yang lewat di sela-sela pohon, adalah cara kampung berbicara bahwa ia masih hidup, masih menunggu, dan selalu siap menyambut pulang.

Dan ketika nanti kaki-kaki lelah itu kembali menjejak tanah halaman, ketika suara tawa kembali memecah kesunyian, kampung tak akan bertanya apa pun. Ia hanya akan membuka pintu, menyambut dengan hangat, dan membisikkan dalam diamnya, “Selamat datang kembali dikampung halaman” (adm)