Colok-Colok Malem Songo : Tradisi Penghujung Bulan Ramadan di Bangilan
- Mar 17, 2026
- Kangmaskin
- Potensi Budaya
Setiap malam 29 ramadhan, umumnya orang Jawa menyebutnya dengan malem songo, sebagian besar masyarakat islam – jawa di Nusantara selain mempercayai sebagai malam yang baik untuk melaksanakan akad nikah, sebagain besar masyarakat Jawa menandai malam songo dengan melakukan tradisi menyalakan colok (obor).
Di Desa Bangilan kecamatan Bangilan, Tradisi menyalakan obor ini dinamai colok-colok malem songo, dipercaya sebagai tanda petunjuk jalan pulang bagi arwah nenek moyang, atau menjadi jalan penerang arwah nenek moyang saat menjengguk keluarga yang masih hidup. Prosesi penyalaan colok ini dimulai sekitar 17.30 atau menjelang magrib, colok yang sudah dinyalakan lalu tancapkan disetiap depan pintu rumah, setiap sudut rumah, tempat pembuangan sampah, depan kamar mandi, dan di sepanjang jalan.
Pemerhati budaya Islam Jawa, Lasmin (72), menyampaikan, Dipercaya setiap malam songo arwah para leluhur yang telah meninggal dunia akan kembali pulang ke rumah untuk menimta doa anak cucunya, nyala colok obor tersebut memiliki filosofi atau simbol petunjuk jalan pulang bagi mereka yang telah meninggal dunia. Setelah nyala api dari colok-colok padam, Mereka para arwah akan kembali ke alam kubur.
Colok-colok ini, berupa sebatang kayu kecil berukuran sekitar 60 hingga 100 centimeter. Yang ujungnya dibungkus kain bekas dan dilumuri minyak tanah, kemudian dibakar dengan api, orang biasa juga menyebutnya dengan oncor, namun di Bangilan tradisi warisan nenek moyang ini seakan hilang, mulai musnah di telan jaman, hanya segelintir orang saja yang masih melaksanakan tradisi tersebut.
Meski terkesan sederhana, setidaknya ada dua hal yang bisa kita ambil sebagai hikmah dan pelajaran dalam trasidi colok colok obor ini, pertama, kita diingatkan agar kita sebagai anak senantiasa mendoakan orang tua dan leluhur yang telah meninggal dunia, kedua colok yang nyalanya hanya sebentar ini harusnya mengingatkan kita bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, semua yang hidup akan mati dan berpulang ke haribaanNya, dengan mengingat itu, akan membuat kita bermuhasabah diri masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan yang hampir “meninggalkan” kita ini.dan berharap semoga bisa bertemu bulan Ramadan di tahun depan. (adm)