Bodo Kupat, Tradisi Lebaran dan Kearifan Lokal di Bangilan

  • Mar 28, 2026
  • kangmaskin
  • Potensi Budaya

Tak banyak wilayah di Indonesia yang memiliki tradisi Lebaran Ketupat atau Bodo Kupat atau Bodo Cilik, yakni hari di bulan Syawal sepekan sesudah Hari Raya Idul Fitri, dimana warganya pada saat itu beramai-ramai membuat dan memasak ketupat sebagai bagian dari tradisi budaya. salah satu daerah yang memiliki ritual budaya tersebut adalah Kecamatan Bangilan. 

Sudah menjadi tradisi orang islam Jawa,setelah tujuh hari bulan syawal menyelenggarakan “bodo kupat” atau Bodo Cilik. Tradisi ini menjadi keistimewaan dan ciri khas masyarakat islam Jawa, tidak pernah di jumpai dibelahan dunia mana pun tradisi semacam ini. Kabarnya “bodo kupat” adalah tradisi hasil ciptaan leluhur islam Jawa.

Tradisi “Kupatan” yang diselenggarakan tepat pada hari ke-7 dibulan Syawwal ini, seolah menjadi sebuah tradisi “wajib” bagi masayarakat Bangilan. Tradisi ini, dimaknai sebagai ungkapan saling memberi maaf terhadap sesama. Berbeda dengan Kupat Beratan, yang di do'ai setelah magrib, “Bodo Kupat”, di do'ai di pagi hari setelah selesai jamaah subuh.

Setelah tokoh masyarakat setempat sedikit memberi tausiah atau ceramah kepada warga yang hadir, kemudian dilanjutkan dengan doa dan diakhiri dengan makan bersama. Hal inilah, yang menjadi suatu moment tersendiri yang dapat dijadikan sebagai jembatan penghubung tali silaturrahim antar warga.

Dalam sejarahnya, tradisi kupatan pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Ketupat sendiri terbuat dari beras yang dimasukkan kedalam janur yang telah dianyam membentuk ketupat, lalu dimasak hingga matang. Dalam filosofi jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat merupakan singkatan dari kata “Ngaku lepat” yang dalam bahasa Indonesia berarti mengakui kesalahan. Dalam falsafah jawa, mengakui kesalahan merupakan salah satu perbuatan positif yang dapat melahirkan perbuatan positif lainnya.

Selain itu, dalam makna kata lainnya, ketupat juga diartikan sebagai laku papat… Lhoh,, apa maksud? Laku papat merupakan jabaran dari kata lebaran, luberan leburan dan laburan. Eits,, jangan bingung dulu. Empat kata tersebut memiliki makna yang berbeda dan menggambarkan suatu ciri khas adiluhung masayarakat jawa. Lebaran memiliki arti “telah usai”, yang artinya memberi sebuah pertanda bahwa waktu puasa telah berakhir. Bukan hanya puasa Ramadhan yang dimaksud, akan tetapi juga puasa sunnah 6 hari setelah hari raya idul fitri.

Maksud laku papat yang selanjutnya yaitu, Luberan. Luberan berarti meluber atau melimpah. Artinya adalah dengan melimpahnya harta, kita diajak untuk bersedekah sebagai salah satu cara untuk membantu kaum fakir dan miskin. Yang ketiga yaitu, leburan. Leburan berarti saling melebur kesalahan satu sama lain dan yang terakhir adalah laburan. Laburan berasal dari labur yang berarti menabur. Kata ini, disamakan artinya dengan kapur yang dapat digunakan sebagai bahan penjernih air. Maknanya adalah agar manusia selalu menjaga kemurnian dan kesucian lahir dan batinnya.

Selain ketupat, ada pula “lepet” yang selalu ada mendampingi ketupat sebagai dishert atau makanan penutup. Lepet ini terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan kelapa adapula disebagian daerah dicampur dengan kacang merah kemudian dibungkus dengan janur. Mengapa dengan janur?. Menurut filosofinya, janur berasal dari bahasa arab “ja a nur” yang artinya telah datang sebuah cahaya. Diharapkan cahaya kebenaran akan selalu datang mengiringi tingkah laku manusia. Berbicara tentang lepet, maka ketika kita memakannya yang ada adalah rasa gurih yang membuat siapapun yang memakannya menjadi ketagihan. Lepet sendiri berarti silep kang rapet. Maksudnya, mengubur dalam-dalam sifat tercela dan memendam perbuatan buruk orang lain yang telah meminta maaf.

Dengan memahami makna filosofis dan dasar ajaran yang menyertainya, kupatan menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia merupakan warisan budaya yang mencerminkan nilai-nilai luhur: kesederhanaan, kebersamaan, dan ketakwaan. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap relevan dan patut dijaga sebagai cermin keislaman yang membumi dan membaur dengan kearifan lokal. (adm)